Sabtu, 07 Maret 2009

HEAVY FEELING

@BANDUNG, Rumah ayahku.
Uhm,, quite boring, dan nggak asik banget posting lewat handphone dgn keypad bodoh ini. Tapi masih mending banget aku punya akses ke internet. Huffh,, aku masih harus ngasi buku TP ke temanku. Dia mau pinjam bukuku. Tapi malees ke sananyah. Duh nggak jelas,, campuran antara FEEL IN BLUE dan FEEL IN BLACK.. Makin nggak jelas.. Duh duh duh =[

Jumat, 06 Februari 2009

Tips Wawancara

Barusan aku wawancara lagi (lanjutan dari yang kemaren). Aku mendapati diriku tetap menjadi diriku namun jawabanku lebih… bijaksana (demikian aku menyebutnya). Kita tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain atau berpura-pura lebih baik dari diri kita yang sebenarnya (yang biasanya memang tidak aku lakukan), namun kita juga harus memandang diri kita secara positif. Sulit memang jika kita disuruh menceritakan kelebihan-kelebihan kita. Bukannya aku merasa tidak mempunyai kelebihan, tapi memang sulit bagiku untuk mengakuinya. Oleh karena itu, kurasa ada baiknya jika kita mengambil tes kepribadian dulu sebelum melakukan wawancara. Tujuannya agar kita lebih mengenal diri kita sendiri. Sebenarnya tanpa tes kepribadianpun aku sudah tahu bagaimana diriku, hanya saja, aku merasa aneh memaparkan hasil kontemplasiku pada orang lain karna aku tidak begitu yakin juga karna takutnya aku menilai diriku sendiri dengan tidak terlalu obyektif. Nah, oleh karena itu, cukup penting mengikuti sejumlah tes kepribadian. Tidak perlu merepotkan diri dengan datang ke suatu lembaga tertentu (walaupun cara ini boleh-boleh saja dilakukan), tes kepribadian gratis banyak kok tersedia di internet. Yang perlu kita lakukan adalah menjawab secara jujur pertanyaan-pertanyaan yang diberikan. Begitulah yang kulakukan dan aku mendapati bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan wawancara tadi secara positif. Itulah yang terpenting. Sejelek apapun kita, jawab segala permasalahan atau pertanyaan dengan jawaban yang positif. Aku cukup kaget juga mendapati diriku berbuat begitu tadi. Tapi tetap saja, kita tidak boleh berbohong. Agak sulit memang untuk dilakukan oleh pribadiku yang sinis, tapi kalau mau mencoba, rasanya bisa-bisa saja. Singkat kata, untuk menghadapi wawancara kita harus : mengenal diri kita dan merasa yakin akan kelebihan-kelebihan kita, jujur, dan positif. Ingat juga pengalaman-pengalaman positif yang pernah kita lalui, ceritakan yang relevan dengan apa yang ditanya.

Kamis, 05 Februari 2009

Tips-Tips Supaya Tetap Cool

Waktu salah satu teman kuliahku datang ke rumahku, dan masuk kamarku, aku mendapati dia menunjukkan ekspresi aneh ketika menatap daftar tips tips yang kuciptakan waktu aku masih SMP. Entah siapa yang menempelkannya di lemari bagian luarku, karna aku merasa telah membuangnya. Tapi aku senang, aku jadi punya kenang kenangan masa SMP ku. Berikut isinya, hati-hati pada kedangkalannya :D.

KIAT-KIAT SUPAYA TETAP COOL
Oleh : Gw
  1. Kalo saya merasa akan meledak di suatu tempat, mending segera angkat kaki dari situ; kalo nggak bisa atau nggak sanggup, mending diem aja, cari kegiatan lain yang bisa mengalihkan kemarahan.
  2. Kalo saya merasa panik dan tergesa-gesa, langkah pertama tarik nafas dalam-dalam sementara usahakan dirimu untuk tenang dulu, minum air es kalo perlu, baru lanjutkan pekerjaan.
  3. Kalo kamu merasa bosan pada sesuatu, mending berhenti memperhatikan, daripada nanti kesal sendiri; cari alternatif yang menggembirakan.
  4. Kalo ada masalah berat, jangan terlalu dipikirin, selesaikan setahap demi setahap, niscaya hasilnya akan baik kalo kamu melakukannya dengan gembira dan niat baik.
  5. Always do what you wanna do, daripada penasaran, mending dicoba. Tapi kalo kegiatan tersebut negative atau buruk, mending jangan berpikir dua kali. Cukup berpikir sekali dan lupakan, kalo kamu tahu itu nggak baik. Tapi sekali-sekali sih nggak apa-apa. Hehehe…
  6. Jangan pernah takut nyoba hal baru.
  7. Kalo lagi kesel, solusi saya adalah makan coklat, setel musik/radio keras-keras, nulis di website, dan begadang. Those make me fun and fresh!
Hmm… cukup menghibur.. Aku nggak pernah benar-benar membacanya lagi sampai aku mengetikkannya barusan. Ternyata aku menyadari betul apa kekuranganku saat itu. Gampang marah, jengkel, dan gampang panic. Jangan kaukira kadarnya biasa-biasa saja lho. Aku bisa menjadi terlalu paranoid. Terlalu tegang, istilahnya. Bahkan kebiasaan itu berlanjut sampai kuliah. Kau tahu, seperti Paris di Gilmore Girl deh. Tapi ketika sudah tingkat 3, aku mulai bisa mengatasinya dan bahkan menjadi agak sebaliknya. Kebiasaan bisa dirubah. Pelajari dan biasakan. Btw waktu itu aku belum belajar algoritma lho. Implikasi-implikasi itu kutuliskan begitu saja :D. Ow dan besok wawancara lagi, lanjutan dari yang di bawah. Tips di atas.. hm.. ada baiknya aku coba praktekkan, secara, aku kan penulisnya, ahaha…. :D

Selasa, 03 Februari 2009

ekspresi diri

Besok, bukan, nanti, tepatnya pukul 10 aku akan diwawancara di TNS. Sekarang masih bangun dengan mata nyalang. Sebelumnya aku sempat berpikir kenapa aku nggak merasa cukup bergairah ketika memikirkan proses proses perekrutan ini? Aku memerlukan semangatku kembali. Aku googling sebentar tadi sebelum tidur. Ketika komputerku dimatikanpun aku masih berpikir-pikir dan googling lagi dengan ponsel untuk mencari inspirasi. Tadi sempat facebook-an sama teman SMP ku dan nyambung nyambungnya jadi ke ayahku, yang satu almameter dengannya. Aku mulai menggoogling nama ayahku. Wow. Cukup banyak entrinya. Ayahku penulis yang produktif untuk ilmu yang ditekuninya. Mengesankan. Aku mulai berpikir pikir untuk melakukan hal serupa. Toh kemampuan menulisku kuanggap cukup baik. Aku pernah menulis naskah drama untuk kelasku semasa SMA dan responsnya cukup bagus. Yah hanya sebatas itu sih karyaku yang diakui orang. Well selain TA. Tapi sebagian besar sih (kalo 1 bisa dianggap besar :D), karyaku nggak penting. Dan hanya mengedepankan lelucon. Aku ingat aku menulis cerita detektif yang konyol tentu saja. Aku punya beberapa cerita semacam itu (detektif konyol). Karna aku suka sekali membaca novel detektif waktu aku masih kecil. Dan konyol, well, mungkin itu sifatku yang ada sejak dulu (sampai sekarang bahkan, aku merasa diriku begitu tolol dan konyol :D). Kecintaanku pada bahasa dan permainan bahasa sudah ada sejak, well, entahlah. Sungguh deh, aku bahkan bisa sakit kepala kalo mendapati tata bahasa yang salah yang tertera di tempat paling nggak penting sekalipun. Pertamakali suka membaca, aku membaca novel dan bukan komik. Oke cukup. Kembali ke topic utama. Intinya, aku cukup percaya diri dengan kemampuan menulisku. Aku cukup kehilangan visi sekarang sekarang ini, jadi aku perlu menuliskan postingan ini, untuk mengembalikan visiku kembali dan agar, paling tidak, aku bangun dengan bersemangat nanti pagi. Tadi kan aku sudah cerita bahwa aku googling nama ayahku. Nah kemudian aku googling beberapa nama lagi, nama saudara sepupuku. Aku ingat ayahku pernah membawa bawa namanya waktu aku merengek rengek minta pindah sekolah. Aku masuk salah satu SMA unggulan di Jakarta. Alasanku masuk sekolah itu apa coba? Karna pilihan lainnya (regular) tidak begitu bagus (di mataku). SMA x misalnya, dekat dengan rumahku juga, namun sangat disiplin sampai sampai jika siswa terlambat tidak diizinkan masuk. Sementara hampir setiap hari aku terlambat sewaktu di SMP, bahkan ketika menjadi ketua kelas sekalipun. Dan SMA y, yang juga dekat dengan rumahku, adalah bekas sekolah kakakku. Kakakku pemberontak luar biasa dan sangat terkenal di sekolah. Aku sudah capek bersekolah di sekolah yang sama dengan kakakku. Ingat tidak bahwa aku pendendam? Aku bisa benci pada guru yang menjelek jelekkan kakakku atau memperlakukan kakakku secara tidak bijaksana. Walaupun hubunganku dan kakakku juga tidak begitu akur, namun, entah kenapa, api kebencian pada guruku (wali kelasku sekalipun, yang pernah bertindak jahat pada kakakku) dapat terlihat jelas di mataku. Aku ingat wali kelasku pernah berteriak begini padaku : “Retno, kamu kenapa sih? Sentimen ya sama saya?”. Aku lupa bagaimana reaksiku, yang jelas aku memang benci padanya karna perlakuannya pada kakakku. Wuits, penjelasan panjang lebar… hehehe… nah kembali ke masalah masuk SMA baru. Aku bisa dibilang tidak begitu ambisius saat itu. Yang jelas, aku merasa bosan pada sekolah, pada PR yang banyak dan lain sebagainya. Yang mendaftarkanku ke SMA saja ibuku. Aku tidak ikut dan malah nonton TV di rumah. Yang pasti aku bersyukur diterima di sana, lebih tepatnya, karna aku lulus ujian. Aku ingat satu satunya ketakutanku adalah tidak lulus ujian. Aneh ya? Bahkan saat itu belum ada batas nilai minimal kelulusan ditambah bernazar sebelum EBTANAS. Senang sekali bisa belajar dengan cara seperti itu. Murni dan tanpa ambisi. Kehidupanku begitu damai, tentu saja dengan mengesampingkan keterlambatan, ketertinggalan barang barang, salah pakai seragam dan hal hal konyol seperti itu. Nah waktu masuk SMA, beda lagi. Temanku sedikit di sana. Yah tentu saja karna itu sekolah unggulan sementara SMP ku sekolah regular. Aku ingat aku mengalami stressku yang pertama. Maksudku stress yang cukup memukul. Aku ingat, sulit sekali bagiku untuk masuk ke lingkungan baru, jam sekolah yang panjang, PR yang lebih banyak lagi. Aku langsung mogok, minta pindah sekolah dimana banyak teman-temanku yang bersekolah di sana. Sekalipun aku harus bertemu dengan guru guru kakakku pun tidak apa-apa, kutanggung resikonya. NEM ku pasti memenuhi untuk masuk ke sana karna standarnya berada di bawah SMA tempatku bersekolah. Tapi tidak, ayahku keras sekali. Beliau merespons permintaanku dengan datang ke sekolah dan melunasi uang pangkal yang seharusnya dicicil selama 3 tahun aku bersekolah. Maka aku terkunci di sana dan tidak bisa pindah pindah lagi. Aku sempat sakit lho, karna kecapekan. Sakit tipes dan harus diopname segala. Awal yang buruk. Nah saat inilah nama sepupuku dibawa bawa. Aku ingat aku pernah pulang sekolah sambil memberengut dan ayahku memberi contoh sepupuku yang sama sama sulit menyesuaikan diri seperti aku. Aku memanggilnya Mas Dikson. Aku ingat nama panjangnya karna aku pernah membuat tugas silsilah keluarga untuk tugas mata pelajaran sosiologi di kelas 2 SMA. Nah aku googling lagi dan menemukan artikel yang menarik tentangnya.

Ayahku pernah menceritakannya padaku dan aku baru tahu versi lengkapnya. Ternyata lucu. Dia punya hobi yang aneh. Hahaha. Well.. bisa menjadi inspirasi bukan? Ada beragam cara untuk mengekspresikan diri. Dia bisa jadi salah satu teladan yang baik. :)

Senin, 02 Februari 2009

+ly feel +

Besok wawancara lagi. Tetap positif dong, has.. Walaupun aku merasa iritasi menghadapinya, tapi aku harus tetap kuat. Dan yang terpenting, hadapi dengan positif. Jangan kesal begini (yeah aku merasa kesal sekarang). Ini karna apa ya? Ada hubungannya kah dengan sifatku yang nggak bisa mengutarakan cinta?! Yeah aku baru ikut tes kepribadian lewat warna tadi. Benar, hasilnya hampir akurat. Aku bisa merasakannya. Tapi bukan berarti aku merasa nggak dicintai kok. Aku punya selera humor yang baik. Aku pintar membuat lelucon. Jadi teman-temanku menyukaiku sebagian besar karna itu. Tapi memang benar, aku jomblo sepanjang usiaku yang telah lewat. Kenapa ya? Padahal aku suka lho sama cowok (kadang suka juga sama cewek, hihihi... Bercanda). Tapi aku selalu bisa mengontrol rasa itu. Benar memang. Guru piano gw yang sering mengumbar kata-kata panggilan mesra pun, entah apa maksudnya.. yah kau tahulah maksudku. Tapi logikaku tetap mengambil alih. Aku rasa dia sudah menikah, jadi kau tahulah bagaimana. Walaupun kalo boleh jujur, mungkin aku juga suka padanya. Tapi tetap saja. Aku merasa merana sekarang. Sifatku memang keras sekali. Tapi walaupun aku keras begitu, masih ada kok yang berani nembak aku. Mungkin karna aku menarik secara fisik walaupun aku nggak terlalu mementingkan penampilan, tapi please, aku jutek lho. Tapi aku tidak jahat, hanya sarkastis. Tapi sebisa mungkin aku nggak ingin menyakiti hati orang lain. Kalo sudah sebal setengah mati, aku biasanya diam. Diam walaupun rasanya jengkel sekali. Aku benci padanya, cowok yang sering ngirimin gw sms junk, dan memohon mohon maaf karna telah mengkritik TA gw. Oke dia boleh ngritik TA gw, tapi PLEASE lakukan dengan benar. Aku nggak suka dia menyampaikan kritiknya tanpa dasar yang jelas. Sial, rupanya aku pendendam. Aku benar benar sebal padanya. Maksudku, selain memohon maaf, dia juga sering sekali berusaha menarik perhatianku lewat sms. Please, gw nggak suka sms omong kosong seperti itu. Membuang waktu saja membacanya. Dia tak kunjung mengerti bahwa aku tidak menyukainya walaupun aku sudah memberitahunya dengan gaya bahasa sehalus mungkin. Yang ada gw malah jadi marah marah sendiri seperti ini.

Nah cukup.. Hentikan sekarang juga. Pikirkan hal-hal positif mulai sekarang, irene (bukan nama asli gw, hanya berjaga-jaga takut ada yang googling nama gw, tadi teman gw mengancam akan mencari tahu blog ini, sial). Pikirkan bahwa seharusnya kau bersyukur bahwa paling tidak kau menarik secara fisik. Walaupun nggak dapat mengungkapkan ekspresi cinta, pikirkan bahwa hal itu bisa diubah. Pikirkan bahwa nggak setiap orang bisa mengerti bahwa dirinya membuat orang lain sebal. Pikirkan bahwa kau harus mulai bisa melihat dari sudut pandang yang berbeda. Dewasalah. Umurmu sudah 22. Oke kau punya kepribadian yang menarik. Kau butuh kesendirian untuk berkontemplasi. Yeah. Tapi mulai sekarang, belajarlah untuk mencintai orang lain, oke? Belajar untuk menerima cinta. Jangan terlalu keras begitu. Kau tidak mungkin hanya mengandalkan dirimu saja seumur hidupmu, jadi mulailah bersikap lembut oke? Mulailah mengekspresikan dirimu secara halus, jangan penuh kemarahan seperti itu. Ubah pola pikirmu, irene. Kau memang terbiasa mandiri, bagus. Tapi cobalah buka hatimu. Cobalah percaya pada orang lain. Cobalah untuk pacaran mungkin? (Kau mau orang tuamu menjodohkanmu?). Oke?! Coba saja dulu. Pilih seseorang, coba, jalanin. Nggak peduli seberapa anehnya, coba saja dulu. Tetap +. Tetap tersenyum. Bersyukurlah atas hal-hal baik yang kau punya. Oke.. saatnya melakukan hal hal lain.

Rabu, 28 Januari 2009

happy birthday MOM...

Happy 46th birthday to my mom^^. Aku yang pertamakali mengucapkan dan mengingatkan yang lain lho :). Aku sengaja bangun pagi soalnya besok ada wawancara di TOTAL Indonesia. Setelah penolakan ironis yang menimpaku sebelumnya (aku berhenti di tahap tes kesehatan), aku mendapati diriku bersikap sangat skeptis cenderung pesimistis. Memiliki harapan adalah sesuatu yang berbahaya, padahal biasanya aku orang yang teguh, sangat teguh malah. Kali ini berbeda. Mungkin aku terlalu menghargai mahal usaha-usahaku, maka ketika mereka tidak terbayarkan, aku jadi sedih luar biasa. Makanya mulai sekarang aku tidak akan bersikap seperti itu lagi. Tapi sebisa mungkin aku tetap mempertahankan etos kerjaku yang selalu berusaha melakukan yang terbaik dan bersemangat, hanya saja, aku harus lebih ikhlas ketimbang sebelum-sebelumnya. Ayahku yang mendaftarkanku di TOTAL. Suatu hari beliau meminta CV, transkrip dan lain-lainnya. Dengan acuh tak acuh kuberikan saja semuanya. Ayahku mengirimnya via pos. Aku sudah berburuk sangka saja bahwa lagi-lagi ada koneksi di sini. Tapi tidak. Ayahku tidak suka berbohong. Dan ia mengatakan ia tidak punya koneksi di sana. Sebenarnya mudah saja bagiku untuk mendapatkan pekerjaan, hanya saja, aku tidak suka kalau ada unsur konektivitas ayahku di sini. Dalam kasus sebelumnya, (x), tidak ada koneksi ayahku di sana. Lowongan itu kudapat di perguruan tinggiku. Makanya aku senang sekali ketika mencapai tes kesehatan. Nah kali ini? Entah.. Kurasa masalah utamanya ada pada diriku sendiri. Seperti ada sesuatu yang harus diluruskan. Entah apa itu. FYI angka SGOT SGPT ku tinggi kemarin. Belum apa-apa aku sudah sakit hati (liver). Mungkin memang banyak racun dalam hatiku ya? :(

Senin, 22 Desember 2008

bad day

Hari yang sial telah tiba. Gw gagal di tes kesehatan di proses perekrutan staf aktuaris di x (lihat postingan di bawah). Kenyataan itu menohokku hari jumat kemarin, ketika tahu bahwa teman2ku (teman baru sih, baru kenal) dihubungi oleh pihak x untuk menjalani tahap orientasi sementara aku tidak. Sempat merasa amat sedih. Tapi hanya berlangsung 1 hari. Aku hampir tidak menangis. Hanya sebentar, sedikit sekali, ketika aku ditanya pendapatku mengenai perasaanku. Aku paling malas membicarakan perasaan dan kalo ditanya begitu malah aku jadi ingat kesedihanku. Ya hanya saat itu saja, aku malah bisa tertawa lagi pas nonton adegan lucu di tv sesudahnya. Tapi aku sadar kalo aku stress karna aku tidur terus sepanjang hari sabtu dan menolak menjalani kegiatan apapun. Sifatku yang argumentative sangat menjengkelkan di sini. Mereka hanya berusaha menghiburku, aku malah mencari2 alasan untuk menghindarinya. Ayahku bahkan sampai melongok di pintu kamarku -hal yang hampir tidak pernah terjadi- untuk menyuruhku makan. Aku lupa apa yang kulakukan hari sabtu malam. Aku rasa aku tidur pukul 3 pagi. Aku kan ikut reuni smp hari itu. aku dipaksa ikut. Aku berdalih akan menengok kakak ibuku, tapi ortuku tak kalah argumentative dibandingkan aku, dan aku kalah maka aku ikut reuni dengan ogah2an. Tapi setelah ikut, rasanya asik juga walaupun tetap saja aku paling malas ikut foto2. aku ingat aku jadi terobsesi dengan kesehatanku dan meminum banyak vitamin sepulang dari reuni itu. aku minum vitamin punya ayahku. kuminum saja semua, lebih karna jengkel dan kesal ^^. Alhasil, walaupun awalnya sangat lelah, aku malah jadi segar bugar. Aku minum vitamin pelancar aliran darah dan aku jadi segar karna aliran darahku mengalir dengan lancar ke otak (atau sejenis itu lah). sebelumnya aku ogah2an baca twilight, novel terakhir yang gw beli, dalam keremangan lampu tidur 5 watt, walaupun aku sudah selesai membaca buku itu. aku tidak punya buku baru. Aku masih terobsesi dengan kesehatanku, aku berniat ikut tes kesehatan lagi. Tapi karna hari minggu lab tutup, aku menunda rencanaku sampai tadi. Hari minggu siang, kuhabiskan dengan jalan kaki ke hoka hoka bento kalimalang. Hanya perginya saja. Pulangnya kita naik angkot. Capek soalnya. Hahaha. Sorenya kita ke gramedia. Aku membeli beberapa buku. aneh, banyak buku bagus. Senang ^^. Waktunya pas dengan masa2 berdukaku. Dan aku mendapati ayahku bertingkah menyebalkan dengan parkir di tempat parkir gramedia dengan setir terkunci. Fyi, tempat parkirnya penuh sekali. hanya karna si tukang parkir melengos ketika ayahku ingin bertanya padanya. Mirip aku sebenarnya. Aku jadi sadar perihal darimana kudapatkan sifat itu. kita malah berlama2 nongkrong di es teler 77, hal yang langka, berhubung biasanya ayahku langsung ke dan menunggu di mobil kalo aku atau adikku ingin beli dunkin donat atau crepes atau apapun. Jadi ketika aku beli es teler dalam keadaan dibungkus, aku agak kaget ketika mendapati bahwa ayahku malah duduk di dalam dan membaca bukunya. Aku jadi berprasangka dan menyangkut pautkannya pada tukang parkir menjengkelkan. Semakin sukses membuat orang lain (yang menyebalkan) jengkel, semakin puas, itu aku. entah apa yang dipikirkan ayahku. hari senin (tadi), aku tes kesehatan lagi di pramita, matraman. Ternyata mahal sekali. hampir menghabiskan biaya 500 ribu rupiah. Padahal tes kesehatan yang kujalani untuk perusahaan x itu masih lebih detail lagi. Hasil tes itu direncanakan bisa kuambil jam 2 dan ketika jam 2 tepat (heran, kenapa aku jadi orang yang tepat waktu? In time (apa sih terjemahan indonesianya?), lebih tepatnya) aku duduk di sana, aku diberitahu bahwa hasilku meragukan dan akan diproses ulang. Sikap skeptis yang sangat kuhargai sekaligus membuat jengkel. Tapi bagus sih, bagus. Paling tidak kalo aku mendapati diriku menderita suatu keabnormalan, aku bisa mengikhlaskannya alih2 berargumen hasil tesnya tidak… valid? (aku malas nulis pake kata2 aneh). yah yah… sekian saja ceritaku… aku kira aku akan mempostnya kali ini. (aku biasa nulis di Microsoft word dan tidak kupost ke blog).

Kira2 2 minggu lalu…
Sudah lama nggak nge-post. Sebenarnya agak malas, tapi gw mau melaporkan sesuatu. 1. gw rasa gw merasa senang karna gw sudah mencapai tahap tes kesehatan dalam proses perekrutan x (lihat postingan di bawah).. Dari 5 orang yang lolos ke tahap itu, cuman gw yang nggak ngerti aktuaria sama sekali.. Tapi, berhubung gw bisa melewati tahap wawancara ekstrim (yeah, jawaban gw cenderung ekstrim kiri atau kanan dimana seharusnya gw menjawab jawaban dalam wilayah abu2, kata bokap gw sih, di rumah sesudah wawancara itu berlalu) gw rasa gw bisa melewati tahap menjadi-satu2nya-orang-yang-nggak-ngerti-aktuaria-sama-sekali di kemudian hari, kalo gw memang diterima (hal yang belum tentu, karna berat badan gw 7 kilo di bawah standar ideal dan gw bilang bokap gw sakit diabetes dimana penyakit itu berpotensi turun secara menyilang (cross) ke anak perempuannya, yaitu gw. Kenapa gw harus bilang begitu, hah??). hmm, agak malas nih ngepost ini sebenarnya, secara gw nggak punya masalah penting untuk dilaporkan. Kau tahu? Kemampuan menulis gw gw rasakan lebih baik ketika gw didera stress, entah ya, dan blakangan ini, gw hampir nggak stress (kadang2 doang, kalo inget proses perekrutan x), selebihnya adalah hal2 menyenangkan. Gw sadar ini adalah saat2 unik, dimana gw hampir nggak merasa stress. Bersyukur atas waktu2 saat ini karna kapan lagi gw bisa nggak stress? Oke melantur terlalu jauh.. Nah 2. dia, cowok itu (lihat postingan di bawah), yang gw suka, memberikan sinyal + ke gw dengan menyatakan bahwa dia mau minjem novel gw karna dia merasa jenuh tinggal sendirian di Jakarta dan ingin membaca novel2 gw… dia nanya, gimana caranya dia bisa minjem novel gw… jawaban brillian gw adalah : nanti aja tunggu reuni. Damn, has, mau lo apa sih? Udah ada lampu agak kehijauan gitu elo malah bikin jadi merah menyala. Tapi anehnya gw sama sekali nggak menyesali jawaban gw itu. jawaban nan kacau balau pada orang yang gw suka? Tapi bener nggak sih gw suka? Bener nggak? Kacau.. tapi gw sama sekali nggak menyesali kecuali kalo inget bahwa gw pernah suka sama dia. jawaban gw seharusnya adalah : oh ya elo ambil aja ke rumah gw (dia tau rumah gw, dia pernah ke rumah gw, how sweet he is, rame2 sih sama temen gw yang laen). Kacau emang. tapi gw sadari bahwa gw belum terlalu klop sama dia. ada beberapa cowok di dunia ini yang gw rasa klop banget sama gw. temen2 dari itb sih, bisa ngerti pendapat2 gw bahkan sampe sisi teraneh sekalipun. Sampe skarangpun gw masih sering chatting sama mereka, dan kita ngebicarain topik2 aneh dan masih bisa saling memahami. Sementara reaksi dia (cowok yang gw suka) ketika gw sampaikan pendapat gw bahwa gw suka tinggal sendiri karna gw memiliki kesempatan untuk lebih menemukan jati diri. Tanggapannya adalah ‘capek deh’. yah,, gw rasa gw belum terlalu mengenal orang ini, jadi gw merasa gw masih harus berhati2.

;;